25
Mar
08

Keju dan Sepatu Butut

          Si Fulan baru pulang dari luar kota. Seminggu lebih dia meninggalkan istrinya. Sampai di rumah, sang istri yang sudah kangen menyambutnya dengan gembira. Si Fulan pun beristirahat sejenak. Tidak lama, sang istri menghampirinya sambil berkata: “Suamiku, aku mempunyai sepotong keju untukmu”“Alhamdulillah, aku suka keju, karena keju baik untuk kesehatan perut”, kata si Fulan. Si Fulan lantas menyantapnya dengan lahap.

Lain hari si Fulan akan ke luar kota lagi untuk mengunjungi saudaranya. Si istri yang mempersiapkan perlengkapannya melihat sepatu suaminya yang begitu lusuh dan butut. “Mengapa kau tidak mengganti sepatu bututmu dengan yang baru ? apa kau tidak malu? tanya sang istri. Sebenarnya si Fulan ingin sekali membeli sepatu baru, tapi dia tidak memiliki uang untuk membeli sepatu yang bagus.

Kemudian sambil tersenyum dia menjawab “Sepatu itu kau yang memilihkan, sehingga walau aku di luar kota, selama memakai sepatu itu, aku merasa selalu berada di dekatmu”. Si istri tersipu-sipu bahagia. “Apa kau masih ingin aku mengganti sepatu itu dengan yang baru, padahal sepatu ini masih bisa kupakai” tanya si Fulan. “Tidak usah selama kau masih ingin memakainya” jawabnya tersenyum. Kemudian si Fulan pamit kepada istrinya untuk pergi.

Seminggu kemudian si Fulan pulang. Istrinya kembali menyambutnya dengan gembira pula. Namun kali ini di rumah tidak terdapa suatu apa pun.
“Adakah keju untukku ?” tanya si Fulan ketika dilihatnya si istri tidak menawari sesuatu pun kepadanya. “Tidak ada lagi,” jawab sang istri. Si Fulan lantas berkata “Tidak apa-apa. Lagi pula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi.”
“Lho, jadi mana yang benar?” tanya istrinya, “keju baik untuk kesehatan perut atau tak baik untuk kesehatan gigi?”
“Itu sih tergantung situasi, kejunya ada atau tidak?” jawab si Fulan dengan entengnya.
Melihat lagak si Fulan, sang istri tertawa geli.

***
Sebuah persoalan bila dilihat dari sisi positifnya akan menumbuhkan rasa ikhlas, syukur bahkan rasa bahagia. Setidaknya memacu optimisme dalam menyelesaikan problema. Dengan berpikir positif akan membuat orang cenderung memandang ke “bawah”. Kelemahan yang ada tetap disyukuri, terutama karena membandingkan kelemahannya dengan siapa saja yang lebih rendah-lemah dari dirinya.
Seperti sikap si Fulan yang memandang sepatu bututnya dari segi positif yang justru malah memberikan rasa bahagia sang istri yang membuat hatinya berbunga-bunga dengan pujian suaminya. Kemudian sikapnya dengan ada tidaknya keju. Hakekatnya bukan cerminan sikap tidak konsisten atau mendua. Tapi ia berusaha melihat dari sisi positif yang jenaka. Sehingga yang ada dalam hatinya adalah rasa bahagia dan bukan kekecewaan.

Cara terampuh membangun cara berpikir positif adalah dengan mengembangkan sikap sabar dan syukur terhadap semua persoalan. Sabar ketika mendapat kebahagiaan sehingga tidak bersikap berlebihan sampai lupa daratan. Sabar ketika mendapat kedukaan, sehingga tidak mengeluh dan meratap. Sikap sabar memang gampang diucapkan, tapi sulit dijalankan. Betul ga😉


11 Responses to “Keju dan Sepatu Butut”


  1. 1 Nita
    Maret 26, 2008 pukul 11:24 am

    Ceritanya sangat menyentuh. Semoga saya diberikan suami yang sabar seperti si Fulan

  2. 2 Febra
    Maret 27, 2008 pukul 6:30 pm

    nice posting..membuat saya belajar lagi dalam menjawab pertanyaan kehidupan🙂

    Smoga bisa mengambil hikmahnya🙂

  3. 3 gokimhock
    Maret 27, 2008 pukul 9:56 pm

    Hati manusia itulah yang jadi tempatnya. Bisa hati jadi besar atau sempit. Ibarat garam sesendok diaduk dalam satu gelas lalu dicicip. Rasakan sendiri. Bandingkan bila garam tadi di aduk dalam tong berisi 200 liter dan cicipilah. Hati adalah wadah dan bila kita mampu menjadikan wadah itu menjadi besar, bagaimanapun masalahnya takkan terasa.

    ikhlas, merasa serba cukup dengan apa yang ada🙂

  4. 4 zlamzani
    Maret 30, 2008 pukul 3:32 am

    Hik hik. Wit gedang awoh pakel. Omong gampang nglakoni pakel. Btw. Proses! Itu harus. Yang kayak ginian dibanyakin, bisa untuk cermin. Asal nggak dibanting aja cerminnya. he he

    kalo yang dimaksud adalah sabar, jelas dunk🙂
    Yang pasti terus berusaha.

  5. Maret 30, 2008 pukul 5:30 pm

    “Wit gedang awoh pakel.
    Omong gampang nglakoni angel.”:mrgreen:

    Cttn:
    gedang = pisang, huruf ‘e’ dibaca seperti ‘e’ pada kata ‘sedang’
    awoh = berbuah
    pakel = nama buah, huruf ‘e’ dibaca seperti ‘e’ pada kata ‘pastel’

    Artinya, “Bicara (tu) mudah, melaksanakannya (tu yang) sulit”.

    Syukron translatenya, jadi merepotkan:mrgreen:

  6. April 1, 2008 pukul 2:16 pm

    Oliveoil …
    Ini tulisan bagus … Tulisan sederhana tetapi sangat mendalam maknanya …
    Terima kasih telah berbagi …
    Salam saya
    salam si trainer untuk sang minyak zaitun

    Terima kasih Pak. Salam kembali.
    Hm… sekali-sekali pengen juga ditrainer🙂

  7. 7 kakanda
    April 3, 2008 pukul 2:54 pm

    “membangun cara berpikir positif adalah dengan mengembangkan sikap sabar dan syukur terhadap semua persoalan”

    memang perlu belajar/berlatih berkomunikasi, memilih kata-kata yang positif, memberi saldo pada rekening emosi
    terimakasih pencerahannya mba Olive

    Benar Pak, berkaitan dengan emosi, memilih kata-kata yang positif sering terlewatkan.
    Terima kasih juga pencerahan di blognya🙂

  8. April 4, 2008 pukul 3:01 pm

    tapi sepertinya belum banyak yaa manusia seperti tokoh di atas,..
    yuk kita berusaha untuk bisa spt tokoh-2 di atas..
    lam kenal yaa,..

    lam kenal juga🙂

  9. 9 tux
    April 4, 2008 pukul 7:15 pm

    Yup, dengan selalu berpikir positif, hidup kita akan bahagia.
    Bagiku kebahagian akan tercipta jika kita selalu berpikir positif dan selalu bersyukur.

    Thanks broth …🙂

  10. 10 Rina
    Agustus 10, 2008 pukul 8:06 am

    Subhanalloh..Sabar dan syukur. Sulit buanget! Sering kita lupa mensyukuri apa yg kita punya dan ketika sudah hilang baru deh nyeseel banget.. Jazakillah atas pencerahannya. Salam kenal olive

  11. Agustus 16, 2008 pukul 1:39 pm

    Sabar n sukur senjata utama manusia mengarungi kehidupan ini, dimana memang mudah mengucapkannya n sangat sulit mempraktekkannya, butuh pengorbanan n perjuangan tuk melawan hawa nafsu diri qt sndiri…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


a

Yang bersilaturahmi

who's online

%d blogger menyukai ini: