13
Feb
08

Dunia kecilku memang beda

Dunia anak adalah dunia yang sangat menyenangkan. Kembali saya teringat bagaimana masa-masa kecil dulu. Bagaimana masa-masa kecil saat bersama keluarga dan teman-teman bermain. Namun… sekarang ini saya merasa dunia kecil anak-anak sekarang banyak berbeda dengan dunia kecil saya dulu. Seperti 2 diantara peristiwa-peristiwa yang saya temui pada siswa-siswi di sekolah.
Peristiwa 1
Seorang ibu (orang tua murid) bercerita kepada saya tentang putrinya yang baru duduk di kelas 1 SD :
Ika : Ma, ma … Ika dah punya pacar di sekolah, orangnya biasa aja sih Ma
Sang mama sempat terkejut, tapi dia tidak memarahi sang anak, karena kawatir si anak nanti tidak mau curhat lagi (tidak merasa aman).
Mama : Menurut Ika, pacar itu apa sih ?
Ika : Pacar itu ya.. kalo kemana-mana selalu sama-sama. Biasanyakan Ika kalo main, ambil spidol di kantor selalu sama-sama dia. teman-teman bilang itu pacar Ika.

Pertama saya mendengar terkejut dan cukup heran juga. Anak sekecil itu sudah berani mengaku dah punya pacar ?. Padahal menurut sang mama, Ika ga suka nonton TV, baca majalah, lantas darimana dia bisa punya pikiran seperti itu ?. Bermain juga hanya dengan teman-teman seumurnya.
Tapi.. apa sang mama tahu bagaimana pergaulan Ika dengan teman sepermainannya? Apa saja yang dibicarakan Ika dan teman-temannya ?
Kalo saya perhatikan, Ika mengaku pacaran dengan sang mama karena mendapat “label pacaran” tersebut dari teman-temannya. Dengan kepolosannya dia dapat mengartikan “pacar” walau dengan imajinasinya sendiri.
Ah.. Dunia kecilku memang berbeda dengan dunia kecil anak-anak sekarang🙂

Peristiwa kedua

Seperti biasa, bila ada siswa kelas 1 yang ceriwis, saya senang menyapanya sambil mengajak ngobrol dikit. Si Ridho sempat mengobrol dikit dengan saya setelah digangguin teman-teman lainnya.. Dari obrolan itu ada obrolan yang membuat saya geli, salut juga ya… sulit diungkapkan🙂
Ridho : Bu, Ridho ga mau pacaran, Ridho mau langsung nikah aja
Saya : Kenapa ? (Sambil tertawa)

Ridho hanya tersenyum dan meninggalkan saya yang telah dipenuhi dengan pertanyaan.

Saya ga tahu, apa yang anda rasakan bila anda berada pada posisi saya🙂 Saat itu saya hanya merasa heran, anak kecil yang masih polos ini sudah punya prinsip seperti ini.
Setelah saya ngobrol sama mamanya, baru saya tahu alasannya. Anak ini memang termasuk cerdas bahkan termasuk tingkat jenius. Dia sering bertanya kepada orang tuanya yang sempat membuat mamanya lelah menjawab. Termasuklah kisah pernikahan kedua orang tuanya. yang ternyata orang tuanya menjalani taaruf singkat terus menikah.
Diantara teman-teman yang sholat zuhur di mesjid, dialah yang paling kecil. Karena terbiasa selalu sholat di mesjid bersama ayahnya.
Ternyata yang terjadi pada orangtuanya telah memberikan suatu teladan bagi Ridho dan menjadikannya sebagai suatu prinsip. Saya hanya berharap semoga prinsip itu tetap dipegangnya hingga dia dewasa🙂
Kembali saya rasakan, dunia kecil saya memang berbeda dengan dunia anak-anak sekarang🙂
Prihatin? pasti yang kita rasakan. Anak-anak seusia ini sudah dapat memikirkan hal-hal yang belum saatnya bagi mereka. Lingkungan ? tentu faktor lingkungan pasti ikut berperan.
Saya jadi dapat mengambil banyak pelajaran dari kisah tersebut bahwa dasar akhlak dan agama harus ditanamkan dengan baik dalam keluarga. Serta tingkah laku orang tua baik atau buruk akan mudah dicontoh oleh anak-anaknya.


13 Responses to “Dunia kecilku memang beda”


  1. Februari 13, 2008 pukul 8:20 pm

    waktu jaman mbak kecil aja sedemikian parah apalagi jaman sekarang ya, saya nggak berani membayangkan😦
    *pulang ke kost trus baca majalah nikah*

  2. Februari 13, 2008 pukul 10:07 pm

    @herr: abis baca majalah nikah… trus (makin) kebelet kepingin nikah😉

    @Olive-chan: wah, saya di SLTA, kalo saya ceritakan di blog saya, ceritanya penuh 80% hal-hal yg kurang baik… Dan saya bisa kena cekal klo bikin posting ttg ituh…:mrgreen:
    *Duh, anak jaman sekarang*

  3. Februari 14, 2008 pukul 12:40 am

    wah, lama gak posting ya? (5 hari)

    dulu saya waktu SD punya cita-cita jadi dokter, sekarang anak SD cita-citanya pingin jadi Indonesian Idol.

    Dulu waktu saya SMP, disuruh main drama bareng anak perempuan aja malunya minta ampun, sekarang anak-anak SMP malah sudah pada pinter buat film porno.

    Dulu beberapa tahun setelah lulus SMA waktu khitbah istri, groginya minta ampun sama bapaknya.
    sekarang anak-anak SMA, kalo nyamperin pacarnya di rumah dan nggak boleh sama bapaknya, dia bilang, “Ntar pulang kerja gua hajar tuh orang!”

    tanggung jawab kita bersama uey…
    🙂

  4. 4 Nin
    Februari 14, 2008 pukul 1:52 pm

    Tapi rasanya.. waktu saya SD (tahun 80-an) anak-anak seumur saya sudah tahu pacaran kok.
    Sering saling ejek, ini pacaran dengan itu….
    Jadi mungkin masalah ini sudah berkembang sejak 20 tahun yang lalu, dan sekarang memang tambah parah.

  5. Februari 15, 2008 pukul 8:02 am

    @Hyo-San
    Sebaiknya cerita yang ada teladannya saja. Agar dapat menambah wawasan pada orang tua🙂
    Anak-anak sekarang memang lebih aktif dan suka mencontoh. Contoh aja berita bunuh diri di media. Maksudnya kalo anak tahu, jangan mencontoh karena itu ga baik. Tapi secara ga sengaja, ternyata beberapa anak malah mencontoh metode bunuh dirinya🙂

    @ Hendrat
    Tanggung jawab kita bersama agar dapat membentuk generasi rabbani ahlaqul karimah. Sudah perlu dipikirkan juga mas strategi tuk putrinya🙂

    @ Nin
    Di jaman saya sih, anak-anak kelas 6 SD yang sudah mulai menyukai lawan jenis. Tapi kalo kelas 1 SD belum sama sekali, masih belum ngerti, tahunya bermain-main aja.
    Btw, media hiburan di tempat saya yang ada hanya TVRI🙂

  6. Februari 15, 2008 pukul 12:00 pm

    Emangnya dunia kecilnya olive bagaimana?
    Kalau waktu rany kecil, yang namanya pacaran2 itu udah ada juga kok…🙂

    Saya kan ceritain tentang siswa kelas 1 SD.
    Nah.. waktu saya kelas 1 SD dulu di tahun 80-an. Ga pernah kepikiran hal seperti itu n teman-teman juga ga ada omong “pacaran”
    Mungkin karena lingkungan juga dan media informasi juga saat itu TVRI yang acaranya yang kalo sore film kartun. Kalo film dewasa menjelang tengah malam🙂

  7. 7 Musafir
    Februari 15, 2008 pukul 3:54 pm

    Membaca ceritanya mengingatkan saya pada anak-anak. Berarti saya harus lebih sering kontak dengan anak-anak dan mamanya yang jauh disana. Kami memang harus lebih memperhatikan pergaulan dan lingkungan anak-anak.
    Terima kasih ceritanya mbak🙂

  8. Februari 17, 2008 pukul 8:23 pm

    emang pergaulan itu sangat besar perngaruhnya pada kepribadian seseorang… sebagai orang tua mesti pilah pilah mna pergaulan yang baik dan benar … tak ada kata terlambat

  9. Februari 19, 2008 pukul 12:04 pm

    peristiwa 1. Kalo itu kayanya si Ika terlalu polos kali ya. hehe

    Salam kenal

    Salam kenal juga. smile
    Namanya anak kecil usia enam tahun tentu masih polos. Kedekatan hubugan yang baik dengan sang mama, membuatnya mau bercerita tentang hal-hal yang dialaminya.

  10. Februari 20, 2008 pukul 9:18 pm

    ehmm , ya emang banyak yang bisa diambil hikmahnya
    kalo dengan tulisan ini
    bagaimana
    http://realylife.wordpress.com/2008/02/20/ibu-koe/

  11. Februari 22, 2008 pukul 9:10 pm

    iya bener…sekarang jaman da berubah * sigh…

    ‘lam kenal yaaa.. ^^

  12. Februari 22, 2008 pukul 9:12 pm

    oya, jadi lupa.. hehe.. q suka nama blognya olive oil yak? ^^

    Selain senang aja sama nama Olive, juga senang menggunakan oliveoil

  13. Maret 12, 2008 pukul 10:07 am

    itu semua tanggung jawab kita. tidak hanya orang tuanya ato keluarganya. tapi kita sebagai tetangganya juga ikut berperan. soalnya anak kecil suka bermain ditetangga.Iya ga..??

    Benar.. anak-anak pasti main ke tetangga terdekatnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


a

Yang bersilaturahmi

who's online

%d blogger menyukai ini: