26
Jan
08

Marah merusak sel otak

Seorang ibu meneliti perkembangan otak bayinya sendiri, dengan sebuah alat khusus yang dipasang di kepala sang bayi. Alat itu kemudian dihubungkan dengan kabel-kabel komputer, sehingga dia bisa melihat pertumbuhan sel syaraf otak anaknya melalui layar monitor.
Ketika bayinya bangun, dia lalu memberinya ASI. Ketika sang bayi menyusui itulah ia melihat gambar-gambar saraf itu membentuk rangkaian yang indah. Ketika sedang asyik menyusui, si bayi yang berusia 9 minggu itu menendang salah satu kabel komputer. Si Ibu kaget, “No!”

Teriakan si ibu membuat si bayi kaget. Saat itu, si ibu melihat gambar sel syaraf tadi menggelembung seperti balon, membesar, dan pecah. Kemudian terjadi perubahan warna yang menandai kerusakan sel.
“Mungkin, kesedihan ini hanya saya yang menanggungnya. Sebagai ibu dan sekaligus sebagai scientist, saya menyaksikan otak anak saya hancur oleh teriakan saya sendiri, ibunya,” demikian diungkapkan Lise Eliot, PhD, seorang pakar biologi dan anatomi sel Medica School (Amerika Serikat), dalam bukunya What’s Going On in There.
Marah, kerap dianggap hal yang biasa, baik di rumah maupun di sekolah. Penelitian otak terkini menunjukkan, ketika seorang anak dimarahi maka yang terjadi adalah bergugurnya sel otak.
Tak hanya dimarahi. Tatkala marah pun otak seseorang akan mengalami kerusakan, termasuk anak-anak. Dalam darah ada hormon cortisol yang biasanya meningkat jika dalam keadaan stres atau marah. Jika hormon cortisol tinggi, itu bisa merusak otak pusat memori. Karena itu, orang pemarh bisa menjadi pelupa. Marah tak hanya menganggu otak, namun juga dapat mengubah fungsi organ tubuh. Menurut DR Mann, berdasarkan penyelidikan ilmiah, marah dapat menimbulkan berbagai perubahan dalam seluruh anggota tubuh seperti hati, pembuluh darah, perut, otak, dan kelenjar-kelenjar dalam tubuh. Seluruh jalan fungsi tubuh yang alamiah berubah pada waktu marah.
Oleh karena itu, ketika anak marah, untuk mengontrol emosinya disarankan untuk merangkul, memeluk, mencium atau mengusapnya dengan lembut. Semua sentuhan akan meningkatkan otak untuk memproduksi oksitoksin atau disebut juga love hormone. Jika oksitoksin diproduksi banyak, maka dapat menekan cortisol sehingga seseorang bisa berpikir lagi dengan baik.

Mau marah ?? Ingat !! sel otak anda bisa rusak karenanya😉

Hidayatullah


14 Responses to “Marah merusak sel otak”


  1. Januari 26, 2008 pukul 4:30 pm

    saya percaya dah mbak,emang g marah itu sehat.Lataghdob……….

  2. Januari 26, 2008 pukul 5:23 pm

    Yup.
    Jangan marah-marah mulu. Dikit-dikit marah…
    Dan…. jangan mancing orang utk marah… Hehe😉

    ____________________________________________________________________________________
    Olive Reply :
    Masuk daftar spam ternyata, syukur ga masuk daftar orang yang dicari polisi:mrgreen:

  3. Januari 26, 2008 pukul 7:39 pm

    wh..syukur deh aq nggk pernh marh2 yg gimana gt..paling kesel n ngomel2 aja..heuheuhe *itu termasuk marah juga nggak ya….?*

  4. Januari 26, 2008 pukul 10:03 pm

    Ketika seseorang marah, maka ia telah kehilangan separuh akalnya. Rasulullah SAW saja memberikan nasehat kepada salah seorang sahabat beliau agar “jangan marah, jangan marah,jangan marah”. Semua tidak gampang, perlu proses dan belajar terus menerus. Paling tidak, kata seorang ulama, jika kita ini sadar bahwa adalah sebagai seorang “hamba”, maka tidak perlu untuk marah jika bertemu dg hal2 yg tidak harapkan dan sukai, karena marah itu juga termasuk sifat mazmumah yg ada di batin manusia yg harus dikikis…

  5. Januari 27, 2008 pukul 10:17 pm

    oo..begituu..kirain anak kecil belom tau kalo kita marah ya, dduh kesian donk yang dimarahin.. sayangnya, marah adalah sifat alamiah manusia ya..
    kalo fi si sabodo amat dimarahin orang lain, yang lebih penting adalah bagaimana cara mengontrol kemarahan kita, supaya orang lain ga “pecah” selnya, kesian kan merusak rangkaian indah di otaknya, masih ada cara lain kali’ untuk mengungkapkan sesuatu selain dengan marah🙂

    ____________________________________________________________________________________
    Olive Reply :
    Kalo mengungkapkan sesuatu selain dengan marah sih banyak. Ada yang cara kasar, ada juga yang cara halus🙂

  6. 6 Nin
    Januari 29, 2008 pukul 9:15 am

    Ya Mba saya juga pernah dengar penelitian ini disampaikan Bu Wirianingsih (Ketua PP Salimah).
    Bener… saya suka marah, jadinya sering lupa.
    Sekarang lagi proses mengurangi marah. Dan sedang berusaha merehabilitasi sel2 otak anak yang sempet rusak. Do’akan ya Mba

    ____________________________________________________________________________________
    Olive Reply :
    Moga berhasil🙂

  7. Januari 29, 2008 pukul 1:51 pm

    hmmm, klo memendam kemarahan (tidak dilampiaskan) apakah ada efek sampingnya bagi kesehatan?

    ____________________________________________________________________________________
    Olive Reply :
    Pasti ada mas. setahu saya sih, pada jantung n tekanan darah🙂

  8. Januari 29, 2008 pukul 11:40 pm

    saya pernah baca di internet, di jepang (kalo gak salah) sampai ada reality show untuk melampiaskan marah dan stres, jadi disediakan sebuah ruangan lengkap dengan perabotannya, nah pesertanya dipersilahkan untuk melampiaskan marahnya/stresnya dengan cara merusak semua yang ada di ruangan tersebut sekehendaknya, bahkan sampai temboknya pun dijebol. kalau dengan cara seperti itu, baik gak yah mba?

    kok tampilannya agak kacau ya?
    apa koneksiku yang lambat jadinya images g ditampilin smua?

    ____________________________________________________________________________________
    Olive Reply:
    Tampilan di sini bagus kok, mungkin memang koneksi di sana yang agak terganggu🙂
    Saya juga pernah baca, malahan ada beberapa kantor di Jepang yang menyediakan ruangan khusus untuk pelampiasan emosi, dimana seseorang bisa berteriak sepuasnya tanpa khawatir suaranya akan kedengaran dari luar🙂

  9. 9 kakanda
    Januari 30, 2008 pukul 10:54 am

    Marah ?
    Manusiawi, yang penting bagaimana mengendalikannya

  10. Januari 30, 2008 pukul 12:54 pm

    Baca yg nomor 7 beserta responnya… *thinking*

    Mm, kalo memendam pun berefek, wah, ya repotts😉
    Arep dadi wong sehat, yo sengoro…😆

    Cttn: “sengoro”, bhs Jawa, dgn “o” dibaca sbg bunyi “o” di kata “onderdil”; bukan seperti “o” di kata “orang”. Artine kurang lebih “mustahil”, atau “sst yg berat sekali kemungkinannya untuk bisa tercapai”.

    ____________________________________________________________________________________

    Olive Reply :
    Memendam emosi pasti ada efek bagi tubuh. Tapi ya memang harus gitu, mengingat …
    Hadist Riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Salallahu ‘alai wassalam pernah bersabda “Bukanlah orang kuat itu dengan menang bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat menguasai dirinya ketika marah ”🙂

  11. Januari 30, 2008 pukul 3:31 pm

    Scr medis, marah dpt membuat sel2 otak terganggu, kulit berkerut alias tambah tua, jantung jd cpt berkonstaksi, tekanan drh meningkat, n msh byk lg dampak lainx…

    sdgkn scr psikologis, dg mengeluarkan emosi atau marah, kt dpt melepaskan rasa sesak maupun beban yg ada didlm dada, krn dg menahan marah kt bs menimbulkan dendam atau hal yg lbh buruk lg.
    tp tentu saja cara mengeluarkannya hrs diperhitugkan supaya tdk membuat org lain jd marah lagi…

  12. Januari 30, 2008 pukul 6:01 pm

    dapat ilmu baru neh.
    yang namanya hidup pasti ada waktu seneng, sedih, marah, gembira dll.
    semua itu tergantung gimana kita menyikapi setiap kejadian.
    saya masih belajar utk tenang dalam menghadapi apapun, karena marah pun blm tentu menyelesaikan masalah😀

  13. Februari 15, 2008 pukul 9:13 am

    jadinya anak yg kerap di marahi sewakti kecilnya akan tumbuh menjadi seorang yg inferior😦
    ————
    lam kenal, komen blog sy jg y

    Lam kenal juga🙂
    Yah… seperti yang pernah saya baca, kalo ga salah gini :
    Anak yang dibesarkan dengan pujian akan membuatnya menjadi percaya diri. Anak yang dibesarkan dengan celaan akan membuatnya merasa rendah diri.

  14. 14 Bei
    Juni 8, 2008 pukul 6:39 pm

    Iiiihhhh, celemmmmm klo malah2 telusss. Ya memang membersihkan sikap yang buruk kadang menyakitkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


a

Yang bersilaturahmi

who's online

%d blogger menyukai ini: