14
Jan
08

The Power of Your Self

Mampukah kita membangunkan beragam kekuatan yang kita miliki. Apakah secuil kekuatan di bawah ini mampu kita lahirkan di awal tahun ini ?

Power of Love

Mampukah di tahun ini kita lebih peduli dengan sesama ? Kepedulian untuk lebih menyayangi, berbagi dan mengerahkan seluruh kemampuan kita untuk memberikan yang terbaik tidak hanya pada diri kita sendiri ataupun keluarga kita tapi pada orang yang sangat jauh dari pertalian darah bahkan di negeri seberang sana. Meski dunia tak mampu membayar kebaikan yang tercipta. QS. Ibrahim : 7 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmatmu. Tapi jika kamu ingkar maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.”


Power of Patience

Mampukah di tahun ini kita dapat lebih sabar dalam menjalani berbagai tantangan dalam kehidupan meski sangat sulit ?
Tantangan agar kita tetap haus belajar dan mengamalkannya? tantangan yang membuang kemalasan kita dalam beramal yang terbaik, tantangan untuk ikhlas menjalaninya? kesabaran untuk menjadikan diri dan lingkungan kita lebih berarti lagi di hadapanNya? dengan berlandaskan pada keyakinan bahwa Allah bersama orang-orang yang sabar. Kesabaran yang juga dilandasi pemahaman akan sebuah sunatullah.

Power of Creativity

Mampukah di tahun ini, kita memiliki hasrat yang kuat untuk mengubah sekeliling kita menjadi lebih baik, bersikap terbuka dan tanggap terhadap segala sesuatu, memiliki minat yang tinggi untuk menggali lebih dalam dari yang tampak di permukaan, rasa ingin tahu yang besar, mendalam dalam berfikir, konsentrasi yang tinggi terhadap suatu masalah hingga mampu menguasai seluruhnya, optimis, tertarik pada situasi yang menantang dan rumit, tidak mudah puas untuk selalu mencari yang baru?
Mampukah kita lebih kreatif lagi dalam bertugas ? baik sebagai orang tua, guru, kepala sekolah, karyawan dan sebagainya.
Bukankah Allah tidak akan mengubah suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan dirinya?

Power of Humanity

Kerendahan hati mempunyai makna kesiapan untuk menempatkan diri pada posisi tidak lebih baik dari orang lain. Sehingga ia akan berlapang dada menerima segala saran maupun kritikan dari siapapun. Dan ini jua berarti dia dapat menerima dengan ikhlas akan kelemahan dirinya.
Kemampuan untuk berpikir positif dalam menyikapi banyak hal merupakan salah satu pilar rendah hati. Bukankah bau syurga tidak akan tercium bagi orang yang memiliki kesombongan di hatinya ? (Nauzubillah … semoga kita terhindar darinya)

Power of Wisdom

Bijaksana merupakan perpaduan antara ketajaman logika seseorang yang dibarengi dengan sikap mental positif.
Mampukah kita untuk lebih bijak lagi dibandingkan sebelumnya? Bijaknya seorang guru ketika menghadapi tingkah laku anak didik yang bikin pusing, menghadapi guru yang “terlalu kreatif”, menghadapi serbuan kritikan dari wali murid ? bijaknya orang tua dalam menghadapi tingkah anak-anaknya? Bijaknya seorang pimpinan dalam menghadapi tingkah laku bawahannya ? dan sebagainya.
Rasulullah Saw mengajarkan kepada kita yang dalam sabdanya “jagalah selalu kelembutan hati, kebeningan jiwa, kesopanan moral, dan berjiwa besar. Takutlah engkau kepada Allah dimana saja berada. Ikutilah sebuah kejahatan dengan kebaikan yang akan menghapuskannya dan bergaulah kepada manusia dengan akhlak yang baik”
Subhanallah… Allah sangat menyayangi hambaNya hingga memberikan suri teladan terbaik sepanjang zaman. Sungguh nikmat Allah manakah lagi yang kita dustakan?

Power of Commitmen

Komitmen adalah kemampuan seseorang untuk istiqomah dalam menjalankan sebuah nilai ataupun keyakinan yang dapat dipertanggung jawabkan. Tentunya komitmen terhadap sebuah amanah bertalian erat dengan ketekunan dan keuletan seseorang dalam menjalankannya.
Bila kita diamanahi sebuah kerjaan, mampukah kita komitmen dengan profesi tersebut? Bagi profesi guru, mampukah bertanggung jawab untuk selalu memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, bertanggung jawab untuk selalu mengasah kemampuan diri agar mempu mengimbangi beragam perkembangan yang ada?
Bertanggung jawab, bahwa apapun fungsi dan kedudukan kita akan dimintai pertanggung jawabannya di hadapan Allah SWT.

Power of Spoken

Harga diri seseorang juga terletak pada lisannya. Melalui lisan dapat diketahui juga sekilas bagaimana akhlaknya. Mampukah kita untuk dapat lebih menjaga lisan kita? Mampukah kita untuk mengendalikan emosi untuk tidak lagi mengeluarkan kata-kata kasar, celaan, umpatan, hinaan yang dapat menyakiti perasaan orang lain serta suatu kebohongan?
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka …” (Ali Imran : 159)
“Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut yang menyukai kelembutan. Allah akan memberikan kepada orang yang bersikap lembut sesuatu yang tidak diberikan kepada orang yang bersikap keras dan kepada yang lainnya “ (HR. Shahih Muslim)
Kejujuran merupakan prinsip dasar akhlak Islami. Karena kejujuran berarti keberadaan Allah mampu dirasakan apakah ia dalam keadaan sendiri maupun bersama orang lain.
Mampukah kita belajar dan bersikap jujur terhadap diri kita sendiri? Terhadap kesalahan, kelalaian dan kelemahan? Mampukah kita jujur terhadap tugas yang telah diamanahi pada diri kita ?
Diinspirasi dari Warta Al-Azhar (kutipan dari buku : The power of emotional and adversity Quotiont for Teacher)

18 Responses to “The Power of Your Self”


  1. Januari 14, 2008 pukul 9:08 am

    🙂

    ____________________________________________________________________________________
    Olive Reply :
    Kok Pak teacher hanya senyum.. ? artikelnya kan dibuat untukmu juga😉

  2. 3 Nin
    Januari 15, 2008 pukul 2:23 pm

    Thanks for sharing…
    Terkadang kita mampu mencintai, tapi dengan cinta itu kita justru tidak mampu bersabar
    Terkadang kita mampu bersabar, tapi justru dengan kesabaran yang dimiliki kita mai kreatifitas
    Terkadang kita mampu berkreatifitas, tapi yang terjadi adalah kita tumbuh menjadi orang yang sombong
    Terkadang kita mampu menjadi orang yang rendah diri, tapi tidak berhasil menjadi orang yang bijaksana
    Terkadang kita bisa bijaksana, tapi tidak komitmen
    Terkadang kita mampu berkomitmen, tapi tak mampu berkata-kata yang baik…
    *duh panjang sekali komennya*
    Semoga segala kebaikan menghampiri kita, sehingga kita tidak menjadi orang yang setengah-setengah.

  3. Januari 15, 2008 pukul 2:54 pm

    Mengapa kekuatan cinta ditempatkan pada urutan pertama?
    Cinta adalah motor penggerak seluruh komponen raga kita. Cinta mampu mengubah rasa pahitnya jamu menjadi semanis madu dan melunakkan hati yang sekeras batu.

  4. Januari 15, 2008 pukul 4:19 pm

    @Herr: wah, wah… mas Herr romantisnyaaa…:mrgreen:
    Btw, since a long time ago I’ve seek the balance; it is so difficult…😕

  5. Januari 15, 2008 pukul 5:38 pm

    wew mantap baca tulisannya atw comentnya @ning
    tapi kekuatan itu semua mudah2an gak disalah pake kan😀
    *nyambung gak yaahhh😀

  6. Januari 15, 2008 pukul 8:26 pm

    Oya, tags-nya: “Psikologi, spitual“…❓
    Missing character? *compiler_mode=On*:mrgreen:

  7. Januari 16, 2008 pukul 5:34 am

    @ Nin
    Terima kasih mbak atas komennya🙂 Tapi.. tentang:
    “Terkadang kita mampu mencintai, tapi dengan cinta itu kita justru tidak mampu bersabar”
    Saya agak merasa beda, bukankah dengan cinta yang justru membuat kita bisa bersabar❓ .
    Kalo diberi contohnya, mungkin saya bisa lebih mengerti🙂

    @ Herr
    He.. he.. dah keduluan Hyo-San deh omong mas Herr romantis… Tapi saya mau tambahin, juga puitis🙂. Tau kenapa kalo saya membaca puitis tentang cinta, selalu membuat saya tertawa:mrgreen:

    @ Suba
    Menurut saya justru disitu membahas, agar kekuatan diri terarah dan tidak disalah gunakan. Terima kasih komentarnya🙂

    @ Hyo-San
    Berkali-kali terima kasih atas koreksinya🙂

  8. Januari 16, 2008 pukul 9:25 am

    La Hawla walaquwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adhiim…Tiada daya upaya kecuali atas ijin dan pertolongan dari Allah SWT🙂

  9. Januari 16, 2008 pukul 11:15 am

    assalamualaikum….

    nyari buku tamu/about me nya nggak ketemu, jadi di sini aja ya😀

    salam kenal mbak, bloger ponti juga ya?
    mari gabung dengan kami di agrgat bloger pontianak di http://borneoblogger.com
    jika berkenan, akan kami add feeder mbak di sana

    trima kasih

    wassalam,

  10. Januari 16, 2008 pukul 1:31 pm

    waduw, telat nih ngasih komentar-nya,
    mbak, kalo misalnya ambil artikelnya dari internet, boleh gak kalo sekalian link-nya disertakan?biar bisa nyari referensi lain, soalnya menurut saya artikel di sini bagus2!🙂

  11. Januari 16, 2008 pukul 1:39 pm

    @rovich:

    …gabung dengan kami di agrgat bloger pontianak di…

    *compiler_mode=On*
    …”still On” maksutnya🙂
    Itu yg betul agregat.
    Afwan log klo nyinyir…😉

  12. Januari 16, 2008 pukul 1:39 pm

    Eh, bukan “log” tapi “loh”…😀

  13. Januari 16, 2008 pukul 2:35 pm

    @ Fakhrurrozy
    Sesungguhnya manusia itu lemah. Diberi masalah dikit dah berkeluh kesah. Terima kasih sudah mengingatkan🙂

    @ rovich
    Wah..sambutan hangat🙂 silahkan di add
    Saya baru tahu kalo ada komunitas blogger juga di westborn.
    Sekalian juga koreksi dari Hyo-san, mungkin memang masnya kurang huruf waktu ngetik.

    @ Hendrat
    Kalo saya ambil dari 1 atau dua sumber di internet, pasti saya berikan sumbernya. api kalo dari beberapa situs ditambah karangan saya sendiri, jadi saya tulis aja dari berbagai sumber.
    Kebetulan artikel yang ini saya dapat dari majalah warta Al-Azhar + tambahan pikiran sendiri🙂

    @ Hyo-San
    Remember “Trust me”:mrgreen:

  14. Januari 16, 2008 pukul 6:53 pm

    “Terkadang kita mampu mencintai, tapi dengan cinta itu kita justru tidak mampu bersabar”
    Saya agak merasa beda, bukankah dengan cinta yang justru membuat kita bisa bersabar .
    Kalo diberi contohnya, mungkin saya bisa lebih mengerti
    —————
    Maaf, ‘cinta’ yang saya golongkan dalam ‘terkadang’ adalah cinta manusiawi bukan cinta atas dasar cinta kepada-Nya. Maka dengan cinta manusiawi itu bisa menghapus rasa sabar. Tak sedikit yang membunuh atau bunuh diri karenanya. Sering kita temui di headline sebuah surat kabar “Karena cinta tak terbalas, ‘A’ mengakhiri hidupnya dengan meminum racun serangga”

  15. Januari 17, 2008 pukul 11:12 am

    atau bisa juga “cinta ditolak dukun bertindak” dan “kalah rupo menang dupo”:mrgreen:
    *don’t try this home*❗

    cinta yang mbak nin maksud memang sudah menjadi fitrah manusia. boleh kita mencintai sesuatu berupa tahta, harta dan wanita tapi semua itu ada kadarnya, artinya jangan sampai melampaui batas. salah-salah bisa terjadi hal yang sudah disebutkan mbak nin di atas.
    sebenarnya sampai sejauh mana kita boleh cinta terhadap sesuatu? jawabannya hingga cinta tersebut tidak melampaui rasa cinta kita kepada Ar Rahiim. Ia lebih berhak dicintai daripada dunia dan seisinya. itulah hakikat cinta sejati, puncak keagungan segala cinta-cinta yang ada di kehidupan yang fana ini.

    afwan kepanjangan, klo bicara cinta saya jadi semangat. maklum saya ini korban cinta hehehe…

  16. Januari 17, 2008 pukul 12:05 pm

    hmmm…
    mana nih…?
    lagu tak tunggu2 artikel barunya….

    [nunggu mode:ON]

  17. Januari 18, 2008 pukul 4:13 am

    @ Herr
    Jempol buat mas Herr🙂
    Kalo boleh saya meluruskan. Mungkin ini yang dimaksud mbak Nin. Menjadi korban cinta yang sering membuat orang ga sabar. Kalo ga kuat (putus asa misalnya) bisa menempuh jalan yang ga baik. Tapi saya rasa mas Herr kuat kok:mrgreen:


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


a

Yang bersilaturahmi

who's online

%d blogger menyukai ini: