07
Jan
08

Formalin & Boraks

Bahan tambahan makanan (food additives) adalah senyawa atau campuran senyawa kimia yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan (non bahan tambahan makanan) namun oleh masyarakat dijadikan bahan tambahan makanan. Dan ini merupakan salah satu masalah mental masyarakat.

Formalin

Formalin adalah nama dagang formaldehida yang dilarutkan dalam air dengan kadar 36 – 40 %. Formalin biasa juga mengandung alkohol 10 – 15 % yang berfungsi sebagai stabilator supaya formaldehidnya tidak mengalami polimerisasi.

Formaldehida pada makanan dapat menyebabkan keracunan pada tubuh manusia, dengan gejala : sakit perut akut disertai muntah-muntah, mencret berdarah, depresi susunan syaraf dan gangguan peredaran darah. Injeksi formalin (suntikan) dengan dosis 100 gram dapat menyebabkan kematian dalam waktu 3 jam.

Tahu merupakan produk pangan yang sering direndam formalin. Tahu yang tidak direndam formalin hanya bertahan 1 – 2 hari saja kemudian berlendir. Sedangkan yang direndam formalin akan bertahan 4 – 5 hari bahkan bisa sampai 1 bulan dalam kadar tertentu.

Boraks

Boraks berasal dari bahasa Arab yaitu Bouraq. Merupakan kristal lunak lunak yang mengandung unsur boron, berwarna dan mudah larut dalam air.

Boraks merupakan garam Natrium Na2 B4O7 10H2O yang banyak digunakan dalam berbagai industri non pangan khususnya industri kertas, gelas, pengawet kayu, dan keramik. Gelas pyrex yang terkenal dibuat dengan campuran boraks.

Boraks sejak lama telah digunakan masyarakat untuk pembuatan gendar nasi, kerupuk gendar, atau kerupuk puli yang secara tradisional di Jawa disebut “Karak” atau “Lempeng”. Disamping itu boraks digunakan untuk industri makanan seperti dalam pembuatan mie basah, lontong, ketupat, bakso bahkan dalam pembuatan kecap.

Mengkonsumsi boraks dalam makanan tidak secara langsung berakibat buruk, namun sifatnya terakumulasi (tertimbun) sedikit-demi sedikit dalam organ hati, otak dan testis. Boraks tidak hanya diserap melalui pencernaan namun juga dapat diserap melalui kulit. Boraks yang terserap dalam tubuh dalam jumlah kecil akan dikelurkan melalui air kemih dan tinja, serta sangat sedikit melalui keringat. Boraks bukan hanya menganggu enzim-enzim metabolisme tetapi juga menganggu alat reproduksi pria.

Boraks yang dikonsumsi cukup tinggi dapat menyebabkan gejala pusing, muntah, mencret, kejang perut, kerusakan ginjal, hilang nafsu makan.

Boraks dalam bakso

Pemakaian boraks untuk memperbaiki mutu bakso sebagai pengawet telah diteliti pada tahun 1993. Di DKI Jakarta ditemukan 26% bakso mengandung boraks baik di swalayan, pasar tradisional dan pedagang makanan jajanan. Pada pedagang bakso dorongan ditemukan 7 dari 13 pedagang menggunakan boraks dengan kandungan boraks antara 0,01 – 0,6 %

Selain itu digunakan tawas yang dilarutkan dalam 2 gram/liter air tersebut digunakan untuk merebus bakso untuk mengeringkan dan mengeraskan permukaan bakso. Beberapa pengolah bakso menggunakan TiO2 yaitu zat kimia yang disebut Titanium dioksida untuk menghindari warna bakso yang gelap.

Dari berbagai sumber

Update 7 April  2008


35 Responses to “Formalin & Boraks”


  1. Januari 7, 2008 pukul 5:07 pm

    Siiip…😀
    Tp koq “dr berbagai sumber”…😐

  2. 2 Inukuser
    Januari 8, 2008 pukul 12:47 pm

    Bakso itu makanan kegemaranku. Baksoku lezat, baksoku nikmat, tapi baksoku …😦

  3. Januari 8, 2008 pukul 9:34 pm

    @atasku
    maksute opo to mas?

    perlu diwaspadai juga bakso yang terbuat dari campuran dari daging yg gak halal❗ , yang lagi marak misale daging tikus

  4. Januari 8, 2008 pukul 10:18 pm

    @Herr: makanya mas, saya hampir ga pernah lagi jajan semisal itu. Jajan saya paling cuma gorengan di kantin sekolah atau di burjo (jaman kuliah di Djogja dulu). Klo lg d Madiun, saling traktir ama adek-adek, di tempat trpercaya…
    Selain itu, NGGAK😉

  5. Januari 8, 2008 pukul 10:37 pm

    @ Hyo-San
    Artikelnya ga hanya dapat di satu sumber aja. Ada membaca, mendengar dan dari in my mind juga🙂

    @ Herr
    Mungkin maksudnya makanan kegemaran mas Inukuser ternyata mengecewakan (punya dampak ga baik bagi kesehatan)🙂

    @ Inukuser
    Dulu guru saya pernah bilang bahwa bakso itu dicerna di tubuh dalam waktu sekitar 6 hari coz kandungan boraksnya itu. Jadi.. kalo makan keseringan bisa menumpuk di hati dan ini yang menyebabkan kanker hati. Jadi kalo mau aman makan jangan keseringan, paling ga seminggu sekali aja. Gitu kata beliau🙂

  6. Januari 9, 2008 pukul 7:49 am

    oh gitu to mbak, seingat saya makan bakso di jogja sudah setahun yang lalu itu juga ditraktir teman, sebelum itu makan bakso terakhir tahun 2002. saya memang jarang makan bakso, bukannya gak suka tapi harganya mahal. seringnya ke burjo atau angkringan, murah meriyah:mrgreen:

    btw, ciri2 visual bakso yg mengandung zat di atas apa ya? buat jaga-jaga aja, nuwur matun…

  7. Januari 9, 2008 pukul 12:56 pm

    @Herr: Wah, pelanggan tetap burjo yach?
    Angkringan juga? Wow… Begitu banyak kesamaan antara kita, ehehe…:mrgreen:
    Iya, coba kalo’ Olive-chan juga nambahin ciri visual adanya zat beracun ituh…🙂

  8. Januari 9, 2008 pukul 1:33 pm

    yup bener, sayah ini kaum burjois penganut paham angkringanisme😆

  9. 9 Dhien
    Januari 9, 2008 pukul 1:37 pm

    Wah *tahu* juga, syukur tempe ndak ikutan.
    Masalah mental tu maksudnye ape Kak ?😉

  10. Januari 9, 2008 pukul 2:14 pm

    @ Herr & @ Hyo-San
    Sama kok, saya juga angkringanisme waktu kost terutama akhir bulan:mrgreen:
    Kalo ciri visual sih, ga bisa dibedakan. Biasanya bisa diketahui lewat rasa. Bakso yang pake boraks rasanya agak kenyal, seperti daging gitu. Kalo ga pake boraks, kalo digigit ga kenyal.
    Tapi.. saya pernah diberi saran ma teman, kalo mau buat bakso jadi kenyal, bahannya disimpan di freezer sebelum dibentuk. Tapi belum pernah saya coba, jadi ga tahu apa kekenyalannya sama dengan yang diberi boraks🙂

    @ Dhien
    Masalah mental itu ya.. berkaitan dengan “mengapa penjual tersebut menggunakan bahan-bahan berbahaya”
    IMO:
    Dan ini bisa dilihat dari beberapa aspek, diantaranya kurangnya pengetahuan penjual tentang akibat yang ditimbulkan dari bahan tambahan makanan tersebut. Dan juga karena untuk mencari keuntungan lebih banyak (melalui proses pengawetan dengan formalin misalnya).

  11. Januari 9, 2008 pukul 2:16 pm

    Tambahan lagi:
    Kalo tahu yang diberi formalin. Kalo dipegang, agak keras dan biasa ada sedikit bau khas. Tapi kalo yang ga pake formalin, kalo dipegang rasanya lembut.

  12. Januari 11, 2008 pukul 5:25 am

    untung gak suka bakso….
    uehueheuheu but tempe ma tahu pake formalin juga yaaa
    *hikss nanyanya nyambung gak yaa

  13. Januari 11, 2008 pukul 12:20 pm

    Yang saya tahu sih, tahu aja yang biasa di beri formalin buat pengawetan. kalo tempe, Alhamdulillah nggak
    Btw, tempe itu my favorite🙂

  14. Maret 6, 2009 pukul 11:23 am

    borax jangan dipakai di makanan, hindari makanan yang menggunakan borax, karena saya menggunakan borax untuk pembuatan gelas di lab material physics UNILA

  15. 15 Bee
    Januari 16, 2010 pukul 8:52 am

    Herr => “…seingat saya makan bakso di jogja sudah setahun yang lalu itu juga ditraktir teman.”

    hehe,, ‘ditraktir teman’nya ga ketinggalan ya..

    Hubungan antara efek boraks dalam tubuh dengan fakta bahwa bakso dikonsumsi lewat traktiran, apa?

    ^^v piss.. murni bcanda lho ini, abis saya ngerasa ini lucu aja.. huihuihui

  16. April 2, 2010 pukul 12:48 am

    Aku pernah nemuin jenis barang kek kristal didalam bakso, warnanya putih bening, dan kenyal. apakah itu boraks? atau benda lain yang sama bahayanya seperti boraks? Thank’s

  17. April 4, 2010 pukul 2:28 am

    sori bos, ingin sedikit revis boleh?
    setau saya boraks bukan food additives. Pengawet iya, tapi bukan untuk makanan..
    takut membingungkan masyarakat ^^

  18. 18 Masyarakat pedesaan banyak memakai bleng tapi sama sekali tidak tahu kalau itu sinonim dengan boraks. Saya jadi ngeri,padahal ditempat saya sudah biasa orang bikin gendar pake bleng.
    April 19, 2010 pukul 7:25 am

    Begitu terbiasa dimasyarakat pedesaan memakai bleng dalam membuat gendar, tapi sama sekali tidak tahu kalau bleng sama juga boraks.

  19. April 28, 2010 pukul 4:19 pm

    pengertiian borakss nd formalin neh dari siappa ia / soal.na saiia lg buad kartull ..
    🙂

  20. 20 rhiski_arini
    Juli 25, 2010 pukul 11:58 am

    Yah, artikelx lumayan tuk nambah2 bhan dri tugas biologi

  21. 22 fitri
    April 16, 2011 pukul 5:42 pm

    wah hebat yah!

  22. 24 abimun
    Januari 5, 2012 pukul 8:38 am

    Mengantuk bisa menjadi tanda penyakit lho http://adf.ly/4Y8LD

  23. Februari 22, 2012 pukul 3:05 pm

    Thanks ats jwbnnya, tapi tolong di tmbh sma pengganti dr boraks.

  24. 26 natari
    Maret 19, 2012 pukul 9:56 am

    bakso…..
    sedih deh..makanan kesukaanku…racun hidupku..

  25. Juni 14, 2012 pukul 10:56 am

    kita emang harus mulai lebih memperhatikan makanan yg akan dimakan … seperti artikel ini, mewaspadai boraks pada makanan anak2 qt :: http://i-makanansehat.blogspot.com/2012/06/hindarilah-boraks-pada-bekal-makanan.html

  26. 28 RIFKY
    September 23, 2012 pukul 4:31 pm

    UPIN SAID : BETULL.. BETUL BETULL…………………………………

  27. 29 PANDU
    September 23, 2012 pukul 4:35 pm

    BAGUSS.. NI BWT TUGAS KIR

  28. 30 SILA ULUL
    Januari 28, 2013 pukul 1:14 pm

    HMMMMM…… KY OPP YW ANNN…..

  29. Juli 11, 2013 pukul 12:37 pm

    thank mas infonya….
    sya brutau klo krupuk puli tuh jg dr boraks, jdi gk mkan lgi krupuk puli….

  30. April 21, 2014 pukul 10:47 am

    formalin dan borax memang sangat berbahaya lagi. apalagi kedua hal tersebut jika dicampur dalam bahan makanan!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


a

Yang bersilaturahmi

who's online

%d blogger menyukai ini: