18
Des
07

Dia Tetap Ibuku

Aku dilahirkan sebagai anak kedua dari tiga bersaudara. Di awal usia aku mengenal tanah, aku telah dibiarkan bermain di panas, bertambah hitamlah kulitku Aku dibiarkan bermain dengan abang bersama kawan-kawan lelakinya yang lain, sedangkan adikku yang juga perempuan yang kulitnya putih bersih duduk di rumah.

Apabila bertengkar akulah yang dihajar habis-habisan, tak cukup dengan caci maki. Hingga kini bekas goresan penggaris yang patah di pipi kananku masih berbekas. Aku pernah terfikir untuk kabur karena merasakan diriku bagai anak pungut karena perbedaan warna kulit menjadikan aku dibenci oleh ibu. Sedih rasanya. 

Ketika makan, aku hanya mendapat kulit ayam, daging yang melekat-lekat terlupa di kikis dari tulang, dilemparkan saja ke piringku. Saat makan, hatiku senantiasa teriris. Kadang aku menyentuh nasi dengan beruraikan air mata.

Ketika masa testing aku pergi tanpa menyentuh makanan apapun dan aku hanya diberikan pensil dua batang, penghapus dan penggaris. Walaupun begitu, sebaris gigiku yang cantik kuhadiahkan untuk ibu demi mencium tangannya sebelum menghadapi test. Aku lulus dalam 10 terbaik di sekolah.

Ketika ayah ke sekolah mengambil pengumuman hasil testingku, ayahku diberi penghormatan karena anaknya bakal mengangkat nama baik sekolah. Ayahku terpana sehingga menitiskan air mata ketika menungguku pulang dari sekolah.

Ibuku membungkam karena adik dan abangku tidak setanding. Tetapi aku tidak pernah menepuk dada. Alhamdulillah aku berhasil juga melanjutkan belajar ke luar negeri.

Seperti biasa aku tetap inginkan bau ibu. Akan ku telepon ibu setiap kali menjelang ujian, minta halalkan makan, minum, minta dia menyayangiku walaupun jauh di sudut hatinya. Aku menangis. Aku tahu dia pun begitu.

Sekembaliku dari luar negeri aku menikah. Bencinya padaku masih belum pudar. Ketika ibu akan ke Mekah aku berjingkat-jingkat dari jauh mengantar ibu dengan linangan air mata karena ibu tidak mau mendekapku. Di dalam hati, biarlah ibu selamat, jangan sampai ibuku terjatuh atau dipijak oleh jemaah lain. (Ibu pergi dengan mahrom lain karena ayah telah tiada).

Ketika ibu memasuki ruang tunggu, ibu terjatuh karena orang terlalu banyak berdesakan berebut-rebut. Sehingga aku mengangkat tangan di tengah-tengah orang ramai sambil berdoa :

“Ya Allah Ya Tuhanku aku tidak ridho ibuku disakiti oleh umat lain saat-saat dia hilang dari pandanganku hinggalah ibuku selamat pulang. Ya Allah Ya Robbi, aku gadaikan segala penderitaanku semasa di dalam jagaan ibu dengan kemudahannya menunaikan segala ibadah tanpa ada cacat dan cela, Aku serahkan ibuku dalam jagaanMu … “

…panjang lagi doaku. Kalau tidak karena anak-anakku menangis, mau rasanya aku sholat sunat di lapangan terbang itu bermunajat.

Alahamdulillah, sekembalinya ibu dari Mekah, aku yang ditujunya. Diciumnya pipiku ibarat selapang padang pasir pipiku dicium dan dicium. Katanya beliau hanya teringatkan aku di setiap tempat suci.

Alhamdulillah. Hingga kini hubunganku dengan ibu selalu baik. Ku jaga dengan penuh hati-hati. Ditambah lagi aku sudah punya anak, kujaga dan semai mereka dengan penuh kasih sayang.

Ibu yang mengandung selama 9 bulan, melahirkan dengan seribu satu penyiksaan … yang menahan berat mata ketika kita demam. Walau menggendong ibu dari sini ke kota Mekah pun belum tentu kita dapat membalas jasa ibu …

“Jangan kau sakiti hati Ibu Ayah. jangan kecewakan mereka. Keridhoan Allah tak akan hadir tanpa keridhoan Kedua Ibu Bapak”

 

Special 22 Desember

Sumber :Amaly Mutiara


9 Responses to “Dia Tetap Ibuku”


  1. Desember 19, 2007 pukul 8:58 pm

    semoga semua bakti itu dibalas dengan surga.
    balas berkunjung mbak olive. semoga tetap saling berkunjung

  2. Desember 19, 2007 pukul 9:19 pm

    eh, kok cumen situ yg digebukin ? mang salahnya apa ??

  3. Desember 21, 2007 pukul 12:14 am

    @ Aprina
    Jangan kawatir mbak, saya senang walking blog🙂

    @ telmark
    Tu cerita sepertinya kisah nyata dari negeri Jiran. Jadi bukan diriku yang digebukin🙂
    Kalo saya menafsirkan sih : si anak digebukin karena rasa kebencian si ibu terhadapnya sehingga di mata si ibu selalu negatif terhadapnya. Alhamdulillah, si anak adalah anak yang sholehah, sehingga dengan kesabaran dan kasih sayangnya Allah mengembalikan cinta sang ibu kepada anaknya🙂

  4. Desember 21, 2007 pukul 6:32 am

    sungguh, saya terharu. seburuk dan sejahat apapun Ibu, tetap saja Ibu kita.
    -salam kenal-

  5. Desember 21, 2007 pukul 6:37 am

    satu hal yg saya tdk mengerti hingga kini: doa dan zikir Mama -saya memanggil dgn sebutan itu- sangat manjur dan cepat di ijabah.

  6. Desember 21, 2007 pukul 10:24 am

    Yup benar, makanya ada istilah “surga di bawah telapak kaki ibu”🙂

  7. Desember 22, 2007 pukul 5:51 am

    mbak olive benar, sekalipun ibu kita tidak senang dengan kita, kita wajib berbakti kepada beliau. kita wajib mematuhi perintahnya kecuali dalam rangka maksiat kepada Allah Ta’ala. semoga kita menjadi orang yang senantiasa berbakti kepada orang tua kita…

  8. Desember 22, 2007 pukul 12:53 pm

    Aamiin.
    i’m agree with you🙂

  9. Agustus 16, 2008 pukul 10:57 am

    Subhanallah bnyak sekali ibrah yg bs qt ambil dr cerita itu, mudah2an bs dijadikan teladan bagi qt smua.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


a

Yang bersilaturahmi

who's online

%d blogger menyukai ini: